Pertama, maafkan absensi menulis saya dua hari belakangan ini! Saya agak sibuk.
Mungkin beberapa dari anda tahu saya berpartisipasi dalam
lomba menulis surat remaja tingkat nasional. Ya, nasional. Perlu diulang?
Nasional.
Percaya atau tidak, forte
saya bukan di bidang menulis ataupun sastra. Namun saya tidak membatasi diri
saya; nekat, saya curahkan buah-buah pikiran dari gumpalan lunak yang tersusun
dari syaraf-syaraf, dendrit dan akson, otak saya. Saya ikuti lomba itu dengan
sikap saya yang… seperti biasanya. Kompetitif, namun tetap berambisi. Berulang
kali saya yakinkan diri bahwa tak apa tak menang, toh saya memang nggak jago-jago amat nulisnya.
Lalu...saya masuk salah satu dari 6 finalis yang dipilih…
dari
sekitar 1000 lebih entry.
Alamak.
*Lagu Bohemian
Rhapsody terdengar di background*
Is this the real life?
Is this just fantasy?
Ambyar sudah fase doktrin diri “tak apa tak menang”. Aku
masuk dalam mindset “Kamu harus menang, ayo tinggal sedikit lagi”. Fase
membebani diri sendiri dengan ambisi diri sendiri dan kemauan diri sendiri. “Kamu
sudah sampai sejauh ini, Ibu sudah bangga denganmu kok”-hal hal semacam itu
kuanggap angin lalu.
Harus. Menang.
Aku tau bahwa kekecewaan yang sangat besar dapat datang
beriringan dengan ambisi tersebut. Sedang
apa anak musik ini di lomba menulis? Aku mulai gila dengan ambisi ini-
campuran antara tergiur dengan hadiah, Title,
dan ekspektasi guru saya yang juga sudah sangat tinggi- aku tak tega
mengecewakannya. Namun apa bisa dikata? Aku berlatih, belajar, siang malam.
Lewati sesi wawancara, pembekalan, penulisan ulang, perasaan gundah yang amat
sangat intens, tak bisa tidur, berdoa siang malam. Ingat sekali aku terduduk di
aula panjang itu, di kursi besar beroda, tangan bertumpu ke meja yang sangat
panjang berbentuk U yang kaku. Ku panjatkan doa, dan menundukkan kepala.
Jantungku berdegup sangat kencang, rambut yang terkulai dari kepalaku bergetar
seiring irama detaknya.
Dan aku…
Hanya pulang dengan hadiah juara Harapan 1.
“Hanya?”
Iya, bagiku itu hanya. Kuanggap ini kekalahan.
Hal pertama yang kulakukan adalah kukabari
guruku, dan aku meminta maaf padanya.
Namun kupaksa doktrin “Tak apa toh bidangmu bukan sastra”
itu kembali menghanyutkan akal ku. Kupikir banyak aspek yang tidak terduga dari
suatu kemenangan, mulai dari yang logis dan rasional sampai hal-hal yang hanya
bisa dikendalikan oleh Sang Pencipta. Aku belajar bersyukur, belajar untuk
tegar (memang agak konyol menggunakan kata “tegar” ketika kau semi-memenangkan
sebuah lomba tingkat nasional) , dan lagipula … aku pulang dengan setumpuk buku, uang saku, dan yang paling penting... seonggok kaca berwarna
biru kristal, dengan globe kecil diatasnya, dan ikatan pita apik berwarna
biru-silver… suatu benda yang menjadi prasasti tragedi hari ini . Ya, agak
sombong untuk menyebutnya tragedi. Banyak orang rela menderita untuk berada di
posisiku sekarang ini, namun aku menganggapnya tragedi. Aku sendiri menganggap
ini sebagai suatu kejadian bagai Romeo
and Juliette karya Shakespeare. Rentetan
peristiwa tersebut tak lagi pantas disebut tragedi, panggilah itu sebuah drama…sebuah
joke, sebuah lelucon.
(Aku merasa bahwa piala ini lebih cantik dari saya sendiri. Jika piala ini seorang wanita, tentunya ia Chelsea Islan. Atau, Raisa).
Masih banyak hal penting yang bisa dibahas tentang dunia, namun aku disini menulis artikel panjang tentang ini. Tak berarti, sungguh.
Absurd.. Kadang aku sendiri tak memahami pikiranku
sendiri.
Transcendentem
Prospectu!
-Alex

ciee yg menang!! <3
ReplyDeleteAhahaha thank you nyobii :3
Delete