31.3.15

Perihal Kompetisi dan Ambisi


Pertama, maafkan absensi menulis saya dua hari belakangan ini! Saya agak sibuk.

Mungkin beberapa dari anda tahu saya berpartisipasi dalam lomba menulis surat remaja tingkat nasional. Ya, nasional. Perlu diulang? Nasional.

Percaya atau tidak, forte saya bukan di bidang menulis ataupun sastra. Namun saya tidak membatasi diri saya­; nekat, saya curahkan buah-buah pikiran dari gumpalan lunak yang tersusun dari syaraf-syaraf, dendrit dan akson, otak saya. Saya ikuti lomba itu dengan sikap saya yang… seperti biasanya. Kompetitif, namun tetap berambisi. Berulang kali saya yakinkan diri bahwa tak apa tak menang, toh saya memang nggak jago-jago amat nulisnya.

Lalu...saya masuk salah satu dari 6 finalis yang dipilih…

dari sekitar 1000 lebih entry.

Alamak.

*Lagu Bohemian Rhapsody terdengar di background*

Is this the real life?

Is this just fantasy?

Ambyar sudah fase doktrin diri “tak apa tak menang”. Aku masuk dalam mindset “Kamu harus menang, ayo tinggal sedikit lagi”. Fase membebani diri sendiri dengan ambisi diri sendiri dan kemauan diri sendiri. “Kamu sudah sampai sejauh ini, Ibu sudah bangga denganmu kok”-hal hal semacam itu kuanggap angin lalu.
Harus. Menang.
Aku tau bahwa kekecewaan yang sangat besar dapat datang beriringan dengan ambisi tersebut. Sedang apa anak musik ini di lomba menulis? Aku mulai gila dengan ambisi ini- campuran antara tergiur dengan hadiah, Title, dan ekspektasi guru saya yang juga sudah sangat tinggi- aku tak tega mengecewakannya. Namun apa bisa dikata? Aku berlatih, belajar, siang malam. Lewati sesi wawancara, pembekalan, penulisan ulang, perasaan gundah yang amat sangat intens, tak bisa tidur, berdoa siang malam. Ingat sekali aku terduduk di aula panjang itu, di kursi besar beroda, tangan bertumpu ke meja yang sangat panjang berbentuk U yang kaku. Ku panjatkan doa, dan menundukkan kepala. Jantungku berdegup sangat kencang, rambut yang terkulai dari kepalaku bergetar seiring irama detaknya.

Dan aku…

Hanya pulang dengan hadiah juara Harapan 1.

“Hanya?”

Iya, bagiku itu hanya. Kuanggap ini kekalahan.

Hal pertama yang kulakukan adalah kukabari guruku, dan aku meminta maaf padanya.

Namun kupaksa doktrin “Tak apa toh bidangmu bukan sastra” itu kembali menghanyutkan akal ku. Kupikir banyak aspek yang tidak terduga dari suatu kemenangan, mulai dari yang logis dan rasional sampai hal-hal yang hanya bisa dikendalikan oleh Sang Pencipta. Aku belajar bersyukur, belajar untuk tegar (memang agak konyol menggunakan kata “tegar” ketika kau semi-memenangkan sebuah lomba tingkat nasional) , dan lagipula … aku pulang dengan setumpuk buku, uang saku, dan yang paling penting... seonggok kaca berwarna biru kristal, dengan globe kecil diatasnya, dan ikatan pita apik berwarna biru-silver… suatu benda yang menjadi prasasti tragedi hari ini . Ya, agak sombong untuk menyebutnya tragedi. Banyak orang rela menderita untuk berada di posisiku sekarang ini, namun aku menganggapnya tragedi. Aku sendiri menganggap ini sebagai suatu kejadian bagai Romeo and Juliette karya Shakespeare. Rentetan peristiwa tersebut tak lagi pantas disebut tragedi, panggilah itu sebuah drama…sebuah joke, sebuah lelucon.


(Aku merasa bahwa piala ini lebih cantik dari saya sendiri. Jika piala ini seorang wanita, tentunya ia Chelsea Islan. Atau, Raisa).

Masih banyak hal penting yang bisa dibahas tentang dunia, namun aku disini menulis artikel panjang tentang ini. Tak berarti, sungguh.

Absurd.. Kadang aku sendiri tak memahami pikiranku sendiri. 

Transcendentem Prospectu!

-Alex


2 comments: