26.2.16

Perihal Dunia Nyata


Selama ini, apakah orang-orang di hidupmu mayoritas baik hati, ramah, dan siap membantu? Apakah semua hal yang engkau lakukan–atau harus kau lakukan–terasa terkontrol dan baik? Bila jawabannya ya, selamat, antara engkau adalah manusia super atau engkau hanya belum terpapar dunia nyata saja.

Aku selalu mengira pengaturan waktuku buruk (memang buruk, sih), namun bukan karena hal itu saja aku selalu merasa telah mengambil lebih banyak dari yang bisa kugenggam, dan pada akhirnya semua barang itu jatuh lalu hancur berkeping-keping di lantai. Setelah menulis beberapa perihal tentang, uh, padatnya jadwal, aku menyadari bahwa hal tersebut dikendalikan 50-50; dirimu sendiri dan jagat raya alam semesta atau kekuatan-apapun-yang-kau-percayai.

Ya, kau memang terserah melakukan apapun yang kau mau, namun most of the time kehidupan akan melemparkan tanggung jawab ke wajahmu dan engkau tidak memiliki pilihan lain selain mengembannya. Life used to love you…or so you think. Saat kau masih bayi, manis dan imut, kehidupan melihatmu dan berkata “ah, manis sekali. Kita biarkan dia.” Namun, saat engkau sudah dewasa dan tidak imut lagi, kehidupan merasa bahwa kau cukup kuat, lalu menambahkan satu per satu tanggung jawab di  atas 279371 tanggung jawabmu yang lain. Kau bisa mengikuti ekspektasi sosial dan menjalankannya, atau tidak mempedulikannya sama sekali. Sayangnya, pilihan yang pertama adalah pilihan yang membuatmu maju di sistem sosial yang sudah berlaku ini.

Tiba-tiba dalam rentang waktu seminggu, engkau harus menghadapi simulasi sidang PBB, melakukan research, resital piano, menulis blog dan artikel, menghadapi pemilihan calon ketua, belajar, dan… (ups, curcol).

Jadi, Selamat! Selamat bila pekerjaanmu menumpuk, berarti kehidupan telah menanggapimu dengan serius dan menunjukkan sisi aslinya kepadamu. Hore! Sebagai bonus, kehidupan juga akan memberikanmu kritik yang terlampau pedas, haters yang menyebarkan hal buruk tentangmu, hutang yang membelit erat, dan orang demi orang yang akan menghancurkan hatimu setelah berkata bahwa mereka mencintaimu! Hore lagi!

Namun percayalah, setelah semua sarkasme itu aku berbicara serius. Itu tak seburuk kedengarannya. Pikirlah, semakin banyak engkau menderita, semakin nikmat rasanya penghargaan yang kita terima, atau bahkan sekedar istirahat. Segelas air dingin akan terasa lebih memuaskan setelah berolahraga keras, bukan? Ingat, anak bayi tidak bisa menikmati kenikmatan setara bacon, bir, kasur yang empuk setelah seharian bekerja, es krim rum-raisin, atau segala kenikmatan dunia lainnya.

Apakah kenikmatan yang terus menerus dapat dibilang nikmat?

Apakah kebahagiaan yang terus menerus akan selalu terasa...memuaskan?

Pikirkanlah.

-Alex

No comments:

Post a Comment