Selama ini, apakah orang-orang di hidupmu mayoritas baik
hati, ramah, dan siap membantu? Apakah semua hal yang engkau lakukan–atau harus
kau lakukan–terasa terkontrol dan baik? Bila jawabannya ya, selamat, antara
engkau adalah manusia super atau engkau hanya belum terpapar dunia nyata saja.
Aku selalu mengira pengaturan waktuku buruk (memang buruk,
sih), namun bukan karena hal itu saja aku selalu merasa telah mengambil lebih
banyak dari yang bisa kugenggam, dan pada akhirnya semua barang itu jatuh lalu
hancur berkeping-keping di lantai. Setelah menulis beberapa perihal tentang,
uh, padatnya jadwal, aku menyadari bahwa hal tersebut dikendalikan 50-50;
dirimu sendiri dan jagat raya alam semesta atau
kekuatan-apapun-yang-kau-percayai.
Ya, kau memang terserah melakukan apapun yang kau mau, namun
most of the time kehidupan akan
melemparkan tanggung jawab ke wajahmu dan engkau tidak memiliki pilihan lain
selain mengembannya. Life used to love
you…or so you think. Saat kau masih bayi, manis dan imut, kehidupan
melihatmu dan berkata “ah, manis sekali. Kita biarkan dia.” Namun, saat engkau
sudah dewasa dan tidak imut lagi, kehidupan merasa bahwa kau cukup kuat, lalu
menambahkan satu per satu tanggung jawab di
atas 279371 tanggung jawabmu yang lain. Kau bisa mengikuti ekspektasi
sosial dan menjalankannya, atau tidak mempedulikannya sama sekali. Sayangnya,
pilihan yang pertama adalah pilihan yang membuatmu maju di sistem sosial yang
sudah berlaku ini.
Tiba-tiba dalam rentang waktu seminggu, engkau harus
menghadapi simulasi sidang PBB, melakukan research,
resital piano, menulis blog dan artikel, menghadapi pemilihan calon ketua,
belajar, dan… (ups, curcol).
Jadi, Selamat! Selamat bila pekerjaanmu menumpuk, berarti
kehidupan telah menanggapimu dengan serius dan menunjukkan sisi aslinya
kepadamu. Hore! Sebagai bonus, kehidupan juga akan memberikanmu kritik yang
terlampau pedas, haters yang menyebarkan
hal buruk tentangmu, hutang yang membelit erat, dan orang demi orang yang akan
menghancurkan hatimu setelah berkata bahwa mereka mencintaimu! Hore lagi!
Namun percayalah, setelah semua sarkasme itu aku berbicara
serius. Itu tak seburuk kedengarannya. Pikirlah, semakin banyak engkau
menderita, semakin nikmat rasanya penghargaan yang kita terima, atau bahkan
sekedar istirahat. Segelas air dingin akan terasa lebih memuaskan setelah
berolahraga keras, bukan? Ingat, anak bayi tidak bisa menikmati kenikmatan
setara bacon, bir, kasur yang empuk
setelah seharian bekerja, es krim rum-raisin,
atau segala kenikmatan dunia lainnya.
Apakah kenikmatan yang terus menerus dapat dibilang nikmat?
Apakah kebahagiaan yang terus menerus akan selalu terasa...memuaskan?
Pikirkanlah.
-Alex
No comments:
Post a Comment