Mereka bilang, cinta itu buta.
Yah, harus kuakui, klise itu kali ini benar.
Aku tak pernah bertatap wajah denganmu, dan aku tak pernah
memandang jauh ke matamu. Cinta dalam pandangan pertama? Apa itu? Aku tak tahu.
Aku sama sekali buta tentang perawakanmu, tinggi badanmu,
apakah kamu memiliki lesung di kedua pipimu, atau apakah matamu yang tipis tak
lagi nampak jika kau tertawa? Aku hanya bisa menerka-nerka berdasarkan apa yang
orang bilang, apa yang kau bilang, dan berdasarkan imajinasiku yang terkadang
terlalu berharap.
Hahaha, aku menulis apa sih sebenarnya? Seperti kau akan
membacanya saja.
Lagipula, kau terlalu malu untuk menunjukkan wajahmu
kepadaku. Apakah kau tidak percaya kepadaku? Setelah berjam-jam obrolan di
tengah malam, dimana mata kita berdua sudah berat dan kepala kita pening karena
kurang tidur, namun kita tetap melanjutkan obrolan tentang hal-hal kecil yang
sejujurnya tak terlalu berguna… Setelah aku mencoba menghiburmu dikala engkau
terjebak dalam tubuh yang sakit karena sebuah aksi heroik (ya, kamu
menyelamatkan seorang nenek-nenek dari mobil yang mengebut lalu mematahkan
tulangmu. Hebat.) Setelah berhari-hari, berminggu-minggu khawatir tentang
dirimu, apakah kamu baik-baik saja? Aku tahu kamu sedikit rapuh atau semacamnya…ah,
apakah kamu tersinggung akan kata itu?
Peduli apa, seperti kau akan membacanya saja.
Setelah semua yang kita seakan-akan
lewati bersama, kamu bahkan tak mempercayaiku dengan hanya foto wajahmu?
Aku…tak akan menilai. Aku hanya ingin kepastian bahwa…Kamu nyata.
Bahwa orang yang selama ini kukagumi, kusayangi, dan ku khawatirkan
itu…nyata. Bahwa seorang Nararya–jika itu
memang nama aslimu–itu benar-benar ada, dan bukan hanya sekedar username di antara pengguna media sosial
lainnya…Aku hanya ingin tahu!
Ah, dan sekarang engkau menghilang.
Account itu hilang.
Menghapus semua obrolan kita dari database, menghapus segala sisa kenangan yang selama ini kubaca
ulang jika aku merindukanmu.
Kenapa kau lakukan ini padaku…?
Kau mungkin terlalu sibuk untuk membaca ini, tapi…
Aku harap kau baik-baik saja ya. Seseorang memberitahuku
bahwa kamu sedang sedih. Bila itu benar, aku harap kesedihan itu tak akan
berlama-lama singgah dalam hatimu. Ohya, jangan lupa makan…dan um,
berhati-hatilah ketika menyeberang, ya?
Aku rindu padamu. Aku rindu terbangun di tengah malam,
menatap ke layar yang terang dan tersenyum lebar karena menerima pesan darimu.
Kuharap kau akan membaca ini…
No comments:
Post a Comment