Ketika aku masih berwujud sebagai
pohon, aku berangan-angan. Akan dijadikan apa kayuku nanti? Apakah sebuah meja
makan yang akan mendengar percakapan sebuah keluarga kecil yang harmonis saat
mereka makan malam? Ataukah aku akan menjadi sebuah lemari tempat bernaungnya
gaun-gaun malam indah milik seorang gadis muda nan elok? Mungkin aku bisa
menjadi sebuah pintu; menjadi perantara keluar masuknya murid dari ruang kelas.
Oh, banyak sekali mimpiku. Kita lihat saja yang mana yang akan terjadi.
Saat hari itu tiba; hari dimana
sebilah besi tajam menancap ke batangku berulang-ulang–kurasakan sakitnya yang
berdenyut-denyut, sampai akhirnya aku pun tumbang. Seraya tubuhku yang tak
berdaya ini diangkut ke tempat pemotongan, tak hentinya aku berandai-andai…
Akankah mimpiku menjadi
kenyataan?
Lelaki tua yang terlihat kuat,
kekar dan kokoh itu mengamatiku. Ia mulai memotong sisi-sisiku dengan gergaji
mesinnya yang bergetar-getar hebat. Tebasan yang asal namun bersih dibuatnya. “Oh,
mungkinkah aku akan menjadi sebuah seni?”
Semakin banyak tebasan dibuatnya.
Aku tak ingin berkecil hati, namun seraya potongan-potongan tubuhku menjadi semakin
kecil, hal yang sama terjadi kepada semangatku.
Kayu bakar. Aku telah menjadi kayu
bakar. Dan aku dijual kepadamu, kawan.
Hilang sudah mimpi menjadi sebuah
mebel indah, sebuah karya seni, atau bagian dari sebuah keluarga. Aku telah
menjadi kayu bakar, yang hidupnya akan habis sebentar lagi, dimakan api,
menjadi arang. Apa yang kuharapkan dari diriku sendiri? Batangku memang kecil
dan tidak terlalu tinggi. Harapanku terlalu besar untuk sebuah pohon kecil. Aku
tak akan semahal jati, seindah cendana, atau seharum kayu manis. Namun aku
bukanlah seorang penyerah.
Kupikir, tak seburuk itu menjadi
kayu bakar. Aku akan menghangatkan, menjaga, menjadi harapan di musim dingin
yang menusuk tulang. Aku telah menjadi kayu bakar, dan tak ada lagi yang bisa
kulakukan untuk mengubah hal itu. Aku menerima keadaan ini, dan aku akan
melayanimu dengan sepenuh hati–
Meski aku tahu hal itu tak akan
berlangsung lama.
Potong demi potong aku digunakan.
Pertama engkau letakkan lembut di perapian. Lama kelamaan engkau campakkan
begitu saja… tak apa. Aku masih berguna. Aku masih bisa memberikan kehangatan. “Aku
akan bertahan” pikirku, sementara lidah api menjilat-jilat, menjalar,
menghitamkan tubuh.
Dingin sekali malam itu.
Dan aku tak tersisa banyak…
Engkau menatap ke arah perapian yang
hampir padam. Lalu matamu mengarah ke arah jerigen minyak tanah. Aku tahu yang
engkau pikirkan…
Jangan, tolonglah.
Oh, ini pasti sangat sakit. Aku
akan terbakar habis. Apinya akan sangat besar.
Guyuran minyak membasahi. Aku
akan mati malam ini, aku akan habis. Oh, baiklah. Yasudahlah. Aku tak akan pernah
menjadi mebel indah, karya seni, atau bagian dari sebuah rumah. “Setidaknya aku
bisa menghatkan dirinya” pikirku,
Seraya api membesar, melahap
rumah, dan engkau bersamanya.
No comments:
Post a Comment