12.8.15

Untuk Engkau yang Suntuk Menunggu


Ketika aku masih berwujud sebagai pohon, aku berangan-angan. Akan dijadikan apa kayuku nanti? Apakah sebuah meja makan yang akan mendengar percakapan sebuah keluarga kecil yang harmonis saat mereka makan malam? Ataukah aku akan menjadi sebuah lemari tempat bernaungnya gaun-gaun malam indah milik seorang gadis muda nan elok? Mungkin aku bisa menjadi sebuah pintu; menjadi perantara keluar masuknya murid dari ruang kelas. Oh, banyak sekali mimpiku. Kita lihat saja yang mana yang akan terjadi.

Saat hari itu tiba; hari dimana sebilah besi tajam menancap ke batangku berulang-ulang–kurasakan sakitnya yang berdenyut-denyut, sampai akhirnya aku pun tumbang. Seraya tubuhku yang tak berdaya ini diangkut ke tempat pemotongan, tak hentinya aku berandai-andai…

Akankah mimpiku menjadi kenyataan?

Lelaki tua yang terlihat kuat, kekar dan kokoh itu mengamatiku. Ia mulai memotong sisi-sisiku dengan gergaji mesinnya yang bergetar-getar hebat. Tebasan yang asal namun bersih dibuatnya. “Oh, mungkinkah aku akan menjadi sebuah seni?”
Semakin banyak tebasan dibuatnya. Aku tak ingin berkecil hati, namun seraya potongan-potongan tubuhku menjadi semakin kecil, hal yang sama terjadi kepada semangatku.

Kayu bakar. Aku telah menjadi kayu bakar. Dan aku dijual kepadamu, kawan.

Hilang sudah mimpi menjadi sebuah mebel indah, sebuah karya seni, atau bagian dari sebuah keluarga. Aku telah menjadi kayu bakar, yang hidupnya akan habis sebentar lagi, dimakan api, menjadi arang. Apa yang kuharapkan dari diriku sendiri? Batangku memang kecil dan tidak terlalu tinggi. Harapanku terlalu besar untuk sebuah pohon kecil. Aku tak akan semahal jati, seindah cendana, atau seharum kayu manis. Namun aku bukanlah seorang penyerah.
Kupikir, tak seburuk itu menjadi kayu bakar. Aku akan menghangatkan, menjaga, menjadi harapan di musim dingin yang menusuk tulang. Aku telah menjadi kayu bakar, dan tak ada lagi yang bisa kulakukan untuk mengubah hal itu. Aku menerima keadaan ini, dan aku akan melayanimu dengan sepenuh hati–

Meski aku tahu hal itu tak akan berlangsung lama.

Potong demi potong aku digunakan. Pertama engkau letakkan lembut di perapian. Lama kelamaan engkau campakkan begitu saja… tak apa. Aku masih berguna. Aku masih bisa memberikan kehangatan. “Aku akan bertahan” pikirku, sementara lidah api menjilat-jilat, menjalar, menghitamkan tubuh.

Dingin sekali malam itu.

Dan aku tak tersisa banyak…

Engkau menatap ke arah perapian yang hampir padam. Lalu matamu mengarah ke arah jerigen minyak tanah. Aku tahu yang engkau pikirkan…

Jangan, tolonglah.

Oh, ini pasti sangat sakit. Aku akan terbakar habis. Apinya akan sangat besar.

Guyuran minyak membasahi. Aku akan mati malam ini, aku akan habis. Oh, baiklah. Yasudahlah. Aku tak akan pernah menjadi mebel indah, karya seni, atau bagian dari sebuah rumah. “Setidaknya aku bisa menghatkan dirinya” pikirku,

Seraya api membesar, melahap rumah, dan engkau bersamanya.


No comments:

Post a Comment