15.8.15

Perihal Kematian


 Apa yang terbesit di pikiranmu ketika mendengar kata “hilang”?

Ya, pikirkanlah. Pasti engkau pernah kehilangan sesuatu, baik itu barang, status, kekuatan, atau apapun juga. Tapi pernahkah engkau kehilangan manusia? Tidak, bukan kehilangan hubungan atau kontak; namun literally kehilangan orang-nya. Saat seseorang mati, entah apa yang menunggunya di sana. Penghakiman? Apakah surga dan neraka benar-benar ada? Atau hanyakah hal tersebut sebuah konsep yang diciptakan umat manusia sebagai pemuas kebutuhan kepastian? Jika seseorang mati, akankah jiwa mereka terbang dan berbaur dengan galaksi– kilau matanya menjadi bintang dan senyumnya menjadi pelangi. Jika seseorang mati, akankah jiwa mereka hidup lagi? Sebagai bunga, rumput, atau padi.

Aku benar-benar tak tahu, aku kan belum pernah mati.

Suatu hari seseorang bertanya kepadaku, seseorang yang tak bisa menangis. (Tetesi saja asam matanya, pasti nangis sih). Ia bertanya kepadaku; “mengapa orang menangis saat ada yang meninggal?”

Kujawab, ”Well, barang yang hilang mungkin ditemukan atau dibeli kembali. Tetapi jika seseorang meninggal, semuanya berakhir. Tak akan ada manusia seperti itu lagi.”

“Namun memori akan mereka tetap ada, bukan?”

“Memori tak akan pernah cukup; manusia ingin menciptakan memori, mengulangnya, bukan hanya mengingat-ingatnya.”

Beda halnya dengan kehilangan barang, engkau yakin barang itu masih ada, engkau hanya tak tahu ada dimana. Kematian adalah hal yang sangat misterius, unknown, undiscovered. Ironisnya,kematian merupakan satu-satunya hal yang pasti di hidup ini. Segala yang hidup pasti akhirnya mati, meski tak tahu kapan, dimana, dan bagaimana. Pasti raganya akan mati. Pasti.

Aku baru saja mengunjungi rumah duka; seorang teman telah kehilangan ayahnya. Sepulang dari mengantarkannya, ayahnya terlibat kecelakaan motor. Tewas, hilang begitu saja. Ibunya hanya bisa menatap
ke arah kejauhan dengan mata yang berkaca-kaca; hampir tumpah.

“Biasa saja, gaada tanda-tandanya. Tadi malem juga masih ketawa-ketawa”.

Itu, kawan, merupakan hal yang paling mengesankan dari kematian–faktor kejutan. Orang yang sebentar lagi dijemput malaikat kematian bertudung hitam tak selalu berubah menjadi pendiam, atau lemah lembut, atau berbau melati. Mereka bisa menjadi mereka yang seutuhnya sampai detik terakhir sebelum ajal tiba.

Maka itu, sobat, janganlah sampai engkau menyesal. Penyesalan adalah salah satu perasaan paling tidak menyenangkan yang bisa dirasakan oleh siapapun karena sifatnya yang terlanjur dan sudah tak bisa diubah. Penyesalan selalu datang di akhir. Kalau di awal namanya pendaftaran. Hidup merupakan suatu hadiah, pakailah sebaik-baiknya. Hargailah hidupmu, dan hargai hidup orang. Sadarilah eksistensi mereka, keberadaan mereka, usaha mereka, dan lakukan hal yang sama terhadap dirimu sendiri. For all we know, we could be just a microscopic part of a humongous thought.  Jadilah manusia yang berguna, berbaktilah pada orangtua, buatlah hidupmu bermakna. Cintailah sesama seakan-akan ini hari terakhir mereka, meminta maaflah jika engkau menyakiti seseorang, berpamitanlah sebelum pergi kemana-mana...

Karena engkau tak tahu pasti apa yang menunggumu, atau dia, di seberang sana.

Bagaimana engkau akan menghadapi kehilangan jika bahkan engkau tidak sadar apa yang telah engkau miliki?

Dan saat engkau akan pergi tidur malam ini, ingatlah–

Mungkin ini adalah terakhir kalinya engkau membuka mata.

-Alex




No comments:

Post a Comment