Umm, that doesn't sound right.
What I meant is "bite more than I can chew".
Harus dibilang, dan diakui, aku ini banci tampil. Aku suka diperhatikan, aku suka mempertunjukkan, aku merasa nyaman di panggung, dibawah sorotan lampu, dan aku cinta suara tepukan tangan.
Jadi segala kesempatan yang aku dapatkan untuk bisa mersakan nikmatnya sorotan lampu panggung, ku sambut dengan tangan terbuka. Dengan antusiasme yang meletup-letup bagai berondong
((Duh, lelucon itu garing sekali))
Namun lagi-lagi, aku mendapati diriku dalam situasi yang persis sama. Situasi dimana aku dibanjiri oleh performances dan urusan-urusan macam-macam...
Aku tertekan.
Dan di saat aku tertekan, justru aku tidak bisa berfungsi dengan baik. Bukannya mencoba mencari solusi, namun aku melakukan berbagai hal yang completely-irrelevant.
Contohnya, menulis blog-post seperti ini.
Dan aku mendapati bahwa bukan pertama kalinya aku mengalami hal seperti ini. Skenario yang sama terjadi natal tahun lalu, dan itu bukanlah suatu hal yang ingin kuingat. Ugh.
Tapi mungkin karena itu, aku terjebak dalam masalah yang sama. Lagi. Karena aku telah gagal mengambil hikmah–pelajaran– dari kejadian-kejadian dulu. Bodohnya aku.
Dan sekarang aku merasa seperti sampah, tak berguna, tak produktif, lebih baik mati saja.
((Padahal dulu aku menulis tentang bagaimana aku belum siap mati. Dan tentang jangan bunuh diri.Cih.))
Baiklah, lebih baik aku saja yang merasa seperti ini. Ingat, sebelum engkau menyetujui apa-apa...
Pikirlah kembali.
Think again.
Don't be like me.
-Alex
*di bawah
ReplyDelete*kusambut