And here I am, lying in bed.
With my nose clogged and my head begging to be shot off of my neck.
And I can't sleep. Look at the time. 22:29.
Instead of sleeping, i'm counting the hours left of my sleep time.
Have I mentioned that tomorrow is Biology and English finals?
I haven't studied one bit.
Setelah ujian berakhir, aku diterjang ujian teori musik. Setelah itu, ujian piano. Di antara keduanya, job, performances, clearance, dan segala tetek-bengek urusan kelulusan sekolah telah berbaris rapih, dengan muka sok-manis yang memelas minta diselesaikan.
(Rasa-rasanya sekarang aku mengerti perasaan ibu rumah tangga yang harus mengurus anak-anaknya, membersihkan rumah, mencuci baju, sekaligus tetap menjadi makhluk sosial yang diterima norma masyarakat, dan tak lupa memuaskan...)
Memuaskan apa hayo.
Ah, sok tidak tahu.
Aku minta digampar ya malam-malam seperti ini.
Tapi initinya, aku kewalahan. Segala hal yang telah aku rencanakan (baca: ingin jalan-jalan) telah diobrak-abrik oleh urusan akademis ini.
Sekarang, jam 22:36.
My eyes are heavy. But I have to finish writing this.
It's not so frequent I get good writing ideas. So once I do, better not lose it and type, type, type.
Sangkakala. Aku tak bisa berhenti memikirkan hal tersebut. Aku yakin engkau telah mendengar di berita-berita atau media lainnya, suara Sangkakala itu telah terdengar.
Dan jika engkau beragama, suara Sangkakala merupakan pertanda akhir zaman. Akhir zaman lho, semuanya benar-benar over.
Finished. The end. Finale. No more tomorrow, it all ends there.
Then, lies a hollow black darkness after, or a glowing white light...
Full of uncertainty.
Dan hanya satu hal yang berkutat di otakku yang sudah serasa mau pecah ini;
Aku tidak siap mati.
After all this hardships I've been through, all to secure my future,
I am NOT READY TO DIE NOW.
Segala les, segala ujian, segala pelajaran, segala persiapan. Apalah artinya semua itu aku jalani jika aku mati besok?
Aku masih ingin sukses, aku ingin berkuliah, aku ingin menjadi dokter, aku ingin menulis novel, aku ingin menikahi Albert....
((Sempat-sempatnya mencoba melucu))
Dan aku ingin punya anak. Tiga. Oh, aku juga ingin keliling dunia, dan membelikan ibuku mobil Range Rover.
Ingin, ingin, ingin. SEMUANYA DI MASA DEPAN!
DAN SEMUANYA BISA SAJA HANCUR BERANTAKAN, DENGAN SATU GELOMBANG SUARA SANGKAKALA YANG MEMEKAKKAN TELINGA.
Semakin malam aku semakin menyeramkan ya. Sebaiknya aku tidur...
Tapi tidak. Aku berpikir, seandainya aku mati besok, dunia berakhir besok, bukan hanya aku yang akan mengalaminya. Mengalami krisis eksistensial semi psychotic seperti ini. Huhuhuhu.
Dan, seandainya dunia tidak berakhir besok...mungkin aku harus lebih menikmati hidup. Mungkin besok akan kucium bibir kekasihku, atau membeli sepasang sepatu baru. Besok akan kubeli lipstik yang aku idam-idamkan itu. (Mengapa besok? Karena sekarang sudah malam dan aku mengantuk). Mungkin, sekali-sekali saja, aku menikmati hidupku sekarang, dan nanti aku bisa kembali mengkhawatirkan masa depan.
Besok akan kuberitahu teman-teman bahwa aku mencintai mereka. Besok aku akan sangat bahagia. Aku akan bahagia, sekarang. Esok. Apalah.
Namun aku harus tetap berhati-hati. Selalu ada kemungkinan bahwa aku akan hidup sampai berumur 100 tahun... Ya, siapa tahu. Masa depanku, sebagaimana samar-samarnya, tetap harus kujaga, bagaikan kartu lotere.
Pasti akan kau simpan baik-baik, jangan-jangan menang. Iseng-iseng berhadiah?
Menikmati buliran-buliran kehidupan, detik-detik sekarang, dan bukan berandai-andai akan kebahagiaan di masa depan.
(?)
Masa depan itu tidak pasti. Hanya satu yang pasti di masa depan,
Death.
I started writing while counting the time I have left to sleep.
I ended writing while counting the time I have to live.
And you know what's scary?
You'll never be exact.
-Alex
Um, perihal suara sangkakala dari langit...
ReplyDelete...well, bunyi itu gelombang longitudinal. Hanya bisa merambat lewat medium... dan nggak ada udara di ruang angkasa, so...?
((Ayolah,aku sedang berusaha terdengar keren.))
Delete