21.10.15

Kawan

Dulu, aku berkawan dengan sedih, kelam, dan air mata.

Sedih, seperti teman yang baik, selalu ada hampir di setiap waktu. Keberadaannya sudah sangat biasa, sampai terkadang aku tak menyadarinya hingga dia tidak ada. Kelam, adalah seseorang yang sangat populer. Meskipun batang hidungnya tak terlihat seharian, namanya dan keberadaannya seakan terus menghantui ruangan. Semua terus membicarakannya, jadi tak mungkin tak menyadari adanya kelam. Selain itu, ada Air Mata. Ia adalah sahabat Sedih, namun ia tidak sekelas dengan aku, Sedih, dan Kelam. Meskipun begitu, karena sedih adalah kawanku, maka secara tak langsung aku berteman dengan Air Mata.

Seperti yang kubilang tadi, kawan adalah orang-orang yang keberadaannya terbiasa kita rasakan. Tak hanya itu, namun pengaruh dari mereka perlahan menjadi suatu hal yang kita biasa rasakan, sehingga rasanya biasa-biasa saja. Pertemanan tersebut berjalan dengan baik dan sangat lama, sampai aku bertemu Harap.

Harap adalah pribadi yang sangat berbeda dari teman-temanku yang lainnya. Ia bertolak belakang dengam Sedih, Kelam, dan Air Mata. Perasaan yang ia bawa ke hatiku merupakan sesuatu yang asing; tidak, sesuatu yang sudah lama tidak kurasakan. Selama ini, aku telah terbiasa dengan emosi dan perasaan yang dipengaruhi teman-teman lamaku, sehingga perasaan baru yang diberikan Harap ini terasa aneh dan tidak biasa.

Dan seperti semua kisah di dunia yang penuh cliché ini, aku jatuh cinta dengan Harap.

Aku menyukai hal baru yang tak biasa, aku menyukai segala yang asing, aku menyukai segala yang berbeda. Harap memberikanku semua itu. Perasaan-perasaan baru ini makin membuatku jatuh cinta dengannya. Dan, sepertinya sudah normal untuk berteman dengan teman-teman kekasihmu kan? Melalui Harap, aku berkenalan dengan Tawa, dan adiknya, Canda. Selain itu, aku juga berkenalan dengan banyak orang lain, seperti Inspirasi, Percaya Diri, dan Tekad.

Aku sungguh menyayangi teman-teman baruku itu, karena semua perasaan baru yang mereka curahkan ke dalam relung-relung kosong jiwaku. Aku sudah terbiasa dengan kehampaan yang diberikan oleh Sedih, Kelam, dan Air Mata, sehingga dipenuhi membuatku jatuh ke dalam euforia.

Sayang sekali, hal yang sudah biasa lainnya adalah meninggalkan teman-temanmu yang lama ketika sudah memiliki kekasih. Aku merasa bersalah akan hal itu, namun aku tak bisa kembali ke mereka. Meninggalkan teman-teman yang tak pernah meninggalkanmu? Karma menungguku di ambang pintu.

Perlahan Harap menjauh dariku.

Ia menyadari goresan dan torehan yang ditinggalkan sedih, luka yang ditinggalkan Air Mata, dan hampa yang ditinggalkan Kelam. Meskipun Tawa dan Canda berusaha sangat keras untuk menutupi hal tersebut, namun tak berhasil. Ia menyadari bahwa aku adalah bentukan dari ketiga sahabatku dulu, dan perbedaan diantara kita sudah tak bisa lagi ditoleransi. Segala aspek diriku yang kukira sudah merupakan bagian tak terpisahkan dengan jiwa ini dianggapnya suatu kekurangan. Aku tak bisa menghapuskan hal itu, bak tato yang permanen, atau bekas luka yang tak kunjung menghilang. Aku ingin tetap bersamanya, namun...

"Seperti Bulan dan Mentari, tak seharusnya kita bersama."

Aku terhujam, hatiku tertikam kata-kata yang lebih tajam dari sebilah belati sekalipun. Bagaimana orang sesempurna itu bisa meluncurkan kata-kata yang tak mencerminkan dirinya sama sekali? Setelah semua kebersamaan itu, setelah semua perasaan itu, setelah semua romansa itu? Tak seharusnya kita bersama? Ia palsu! HARAP ADALAH PALSU!!!

Aku berjalan ke ruang kelas dalam kesendirian, merasakan perasaan yang dulunya sudah biasa kurasakan. Mengapa sekarang terasa asing lagi?

Seraya langkah kakiku yang lesu mendekati pintu, perasaan-perasaan rindu menghantui diriku. Aku rindu masa lalu, rindu teman-teman yang tak pernah meninggalkanku. Bodohnya aku meninggalkan mereka. Bodoh.

Ketika aku membuka pintu, aku disambut tiga sosok yang sangat familiar di mataku. Dan suara itu, parau namun mengundang, berbicara, lembut namun jelas.

"Hey, Depresi...akhirnya kau kembali."

No comments:

Post a Comment