Kepada Pak Harris,
Sama seperti semua hal lainnya, semua orang memiliki perspektif dan pengertian yang berbeda-beda tentang segala suatu hal. Perbedaan tersebut adalah hal yang memicu argumentasi, perpecahan, namun juga mungkin persatuan.
Namun aku tak peduli dengan perbedaan tersebut, ataupun pendapat orang lain dalam hal ini. Bagiku, seorang guru merupakan seseorang yang memiliki kemampuan untuk mengubah hidup murid-muridnya,dan membekali mereka menghadapi realita kehidupan nantinya.
Seorang guru haruslah menginspirasi, mengerti, peduli. Seorang guru harus tahu yang salah dan yang benar, dan tidak takut menyatakannya. Terakhir, seorang guru haruslah berilmu.
Banyak kriteria dalam otakku yang telah kujabarkan, dan jika kita ikuti kriteria itu hanya ada segelintir "guru" di sekolah ini.
Salah satunya adalah dirimu, Pak Harris.
(Entah jika guru-guru Andrea Hirata memang sehebat itu semua atau kemamuan menulis deskriptifmya memang sangat dahsyat. Aku sampai terbawa emosi...)
Pak Harris, sejujurnya aku menjadi aku yang seperti ini itu ulah Pak Harris.
Namun menurutku, surat-tanda-terima-kasih yang kutulis di jam pelajaran IPA ini tak akan pernah cukup untuk membalas jasa-jasamu.
Dan menurutku, penghargaan terbesar untuk seorang guru ialah kesuksesan muridnya. Tandanya, mereka telah berhasil mendidik seseorang muridnya dan menjadi seorang guru sejati.
Maka aku akan berusaha membanggakan bapak. Nama bapak akan tercantum dalam karya-karya tulisku,mungkin dalam beberapa laguku, namun akan selamanya di benakku.
Akan kugantungkan nama Andreas Harris di antara Plato, Ki Hadjar Dewantara, dan orang-orang hebat lainnya.
Teruslah menginspirasi dan mengajar, Pak Harris!
Terima kasih untuk segalanya!
-Alex
No comments:
Post a Comment