20.4.15

Entry Lomba Menulis Surat Remaja 2015


(Penasaran dengan surat yang menempati juara *ehem* keempat...tingkat Nasional?)



Tangerang, 23 Februari 2015
Kepada sahabatku, Zivskalania

Di Bekasi

Zivska tersayang,

Kawan,bagaimana kabarmu? Aku sangat merindukanmu. Rasanya hanya dirimu yang mengerti ocehan-ocehan ku.Yang menurut orang merupakan racauan, menurutmu merupakan frasa-frasa indah. Aku akan mulai sekarang. Jangan tertidur.

Kali ini, aku akan berbicara tentang dunia. Dan aku tak menulis ini tanpa sebab, karena aku sendiri dilanda masalah. Ah, perubahan dunia. Yah, ketika teman-temanku berbicara tentang menginginkan teleportasi, UN dihapuskan, dan penghapusan “Internet Sehat”, aku berpikir sedikit…rasional. Dalam kamus mereka, pesimis. Dalam kamusku, rasional.

Aku menyukai dunia dimana aku bertumbuh sekarang. Ya,dunia yang penuh baik dan buruk, penuh  intrik dan kemonotonan. Dunia yang penuh kekacauan dan campur aduk, hidup di tengah perisai tipis perasaan aman. Mengapa?  Karena tanpa semua itu, hal-hal yang di mataku indah tak akan pernah ada
Dunia yang kita tinggali sekarang merupakan dunia yang keras, dimana dibutuhkan perjuangan tumpah darah hingga anemia untuk berhasil, dan itupun belum tentu berhasil ! Dunia dimana yang adil lapar dan yang  curang kekenyangan! Namun hasil dari semua itu adalah orang-orang inspiratif, cerita-cerita menakjubkan, dan pejuang-pejuang tak kenal lelah. Bayangkan jika Malin Kundang berserah akan keadaan hidupnya yang menyedihkan. Mungkin, dia anak yang penurut, berbakti, manis, dan sholeh, yang akan mati muda karena kelaparan atau kurang gizi. Lalu kita tak akan memiliki cerita rakyat yang mengesankan dan menakuti semua anak-anak di Indonesia. Eh, aku tidak menekankan bagian durhaka. Jangan durhaka.

Keadaan kehidupan masyarakat sekarang mengenaskan. Menurutku, segala macam permasalahan, hampir semuanya bermula dari keadaan kesejahteraan hidup yang buruk, sungguh. Orang- orang menginginkan kestabilan dan jaminan kehidupan, namun hanya sedikit yang memilikinya. Bahkan menurutku, tak ada yang memilikinya. Semua hal bisa diraup dari tanganmu dalam sekejap, tak peduli engkau siapa. Namun sebagian besar orang hanya lebih tidak beruntung saja.

Laporan keadaan: Kantor ayah yang merupakan perusahaan kontraktor bangungan sedang dalam keadaan kritis darurat, alhasil dari tuntutan para buruh-buruh yang ingin menjadi pegawai tetap; dengan berbagai jaminan super lengkap. Gaji tetap, jaminan kesehatan, kematian, uang pensiun, sampai uang bensin pun! Namun jika semua buruh tersebut dijadikan pegawai tetap, perusahaan harus mengencangkan ikat pinggang kulitnya. Salah. Harus menjual ikat pinggangnya dan seluruh setelan bajunya hingga telanjang karena mereka pasti bangkrut. Apa yang terjadi padaku jika mereka bangkrut? Aku akan lapar.

Cukup keluh-kesahnya. Apa yang harus dilakukan ketika ada masalah? Bertindak! Atau setidaknya, buatlah rencana suatu tindakan. Mari kita analisa. Kata kuncinya disini adalah jaminan, bukan? Jaminan bahwa semua masalah pasti bisa diselesaikan dan tak akan membelitmu, tak lagi mengikutimu sampai raga kembali menjadi abu.

Menurutku, hal ini bisa di resolusikan dengan tindakan bertahap jangka panjang. Dan langkah pertama dari solusi ini adalah suatu aspek paling fundamental yang harus dilakukan di kehidupan seorang manusia; bertahan hidup.

Apa yang harus dilakukan untuk bertahan hidup? Makan, minum, dan dasarnya, menjaga kesehatan. Ya, jika
engkau sehat, kemungkinan kau akan mati dipersempit. Sebenarnya bisa saja engkau tersandung, jatuh, dan membocorkan kepalamu. Namun intinya kawan, kita pecahkan masalah kesehatan.

 Saat mimpiku menjadi dokter terealisasikan, aku akan terjun ke lapangan dan menyediakan layanan kesehatan yang gratis se gratis-gratisnya. Ya Tuhan, rasanya hatiku seperti disilet lalu digarami ketika mendengar kasus kematian anggota keluarga kurang mampu, dengan penyakit yang seharusnya sangat bisa ditangani dan disembuhkan. Semua hanya karena ketiadaan lembaran kertas kelewat berharga di sistem dunia yang sudah terlanjur kacau ini. Solusi yang pemerintah tawarkan, Kartu Jakarta Sehat? Uh, maaf, tak bisa kubayangkan betapa sulitnya mendapatkan hal tersebut jika Ayah sedang memulung dan ibu mengemis. Ayolah, bahkan mendapatkan KTP saja membutuhkan calo; amat sulit.

Untuk memecahkan ini, dibutuhkan upaya banyak orang. Sadarkah kamu bahwa banyak orang yang sangat mampu membantu mereka namun tidak melakukannya. Mengapa? Malas. Jalan keluarnya? Buatlah orang wajib membantu. Bagaimana dengan ide “Pajak Kesehatan”? 

Uang pajak yang dibayar khusus untuk membiayai biaya berobat semua golongan rakyat. Sistem ini haruslah praktis, dengan cara transfer melalui mesin semacam ATM khusus kesehatan. Uang yang terkumpul didistribusikan ke rumah sakit – rumah sakit di penjuru Nusantara dan dapat dipakai untuk sarana pengobatan apapun.  Mesin tersebut juga dapat melayani pengambilan jadwal donor darah, informasi ketersediaan donor, dan lain-lain! Brilian, bukan?

Dan kurasa, yang harus menangani Pajak Kesehatan bukan Pemerintah pusat…karena kau tahu sendiri, uang tersebut bisa saja dimakan tikus.

Sepanjang surat ini kawan, aku telah menjadi diriku yang sangat diriku, rasional, sistematis, dan agak sedikit gila. Oke, mungkin terlalu gila. Tidak konvensional.  Dalam dunia sudah semestinya ada gelap dan terang. Namun, tak ada salahnya mencoba untuk mengurangi kegelapan tersebut.  Dunia sudah semestinya rasional dan realistis, namun harus juga penuh imaji dan kontradiksi.

Simpel, bukan?

Aku bercanda.

  Terima kasih sudah membaca surat ini ya, senang rasanya ada yang mengerti  pola pikirku sekarang. Atau jangan-jangan kau tidak mengerti?

  Kutunggu balasanmu kawan, dan sampai saat itu datang, sampai jumpa di surat selanjutnya. Ingat, tetaplah buka pikiranmu dan kunci kepercayaan mu. Tetap jadilah dirimu sendiri, Zivs.
Mari kita realisasikan dunia impian itu, sobat. Namun, sampai saat itu, nikmatilah dulu hidup, temukan dirimu.


-Alex

No comments:

Post a Comment